Jurnal

Buku Tentang Musik Dalam Negeri image

Buku Tentang Musik Dalam Negeri

Rekomendasi buku musik Indonesia yang dimaksud bukan yang isinya notasi atau kunci gitar beserta lirik. Tim Rock Nation mau mengajak kalian untuk menikmati dan merayakan musik dari cerita-cerita yang melingkupinya. Kalian pasti setuju kalau musik itu bukan hanya band, lagu, merchandise, dan festival? Musik adalah budaya.  

 

Membaca buku-buku tentang musik ini akan membuat kalian semakin merasakan bahwa musik tidak bisa lepas dari hidup kita. Salah satu penulis musik, Taufiq Rahman, juga berkata bahwa menulis musik adalah menulis tentang manusia.

 

Buku yang akan tim Rock Nation bahas kali ini semua ditulis oleh penulis Indonesia, sebagian penulis adalah jurnalis musik, sebagian adalah mereka memang menjalani profesi sebagai musisi. Tapi beberapa buku akan sulit kalian temui di toko buku karena mereka menerbitkannya secara indie.


Setelah Boombox Usai Menyalak - Ucok “Homicide”

Buku ini 227 halaman, berisi 27 tulisan Ucok tentang musik. Tulisan yang membukanya adalah cerita perkenalannya dengan musik berjudul “Bapa”.  Tulisan yang sangat menyentuh. Ucok cerita tentang bagaimana sosok ayahnya sangat berpengaruh terhadap dirinya. Karena ayahnya, Ucok kenal musik. Ia sering menyetel musik di rumah dari mulai Black Sabbath, Bing Slamet, The Beatles, ABBA, hingga Koesplus. Saat SMA dulu, Ucok dan ayahnya juga sering berburu kaset bersama ke toko-toko hingga ke loakan.

 

 “Musik adalah media terbaik untuk menyimpan memori,”  kutip Ucok mengingat betapa ia selalu mengenang sang ayah tiap kali mendengar Black Sabbath “Vol. 4”.

 

Di tulisan-tulisan setelahnya, Ucok mengajak kita untuk menyelami musik, kebanyakan yang bertema protes serta eksistensi diri, dari mulai Hip Hop, punk, hingga musik post-rock dari Godspeed You! Black Emperor dengan kacamata politik, sosial, dan filsafat. Beberapa tulisan yang Hai highlight  adalah “10 Lagu Protes Lokal Terbaik” dan  “Making Punk A Threat Again”

 

Grunge Still Alive - YY

Buku ini ditulis oleh personel band grunge asal Surabaya, Klepto Opera. Nama panggung penulis adalah YY.

 

Di buku ini, YY memulai cerita dari perkenalannya dengan grunge saat SMA lalu langsung masuk ke cerita tentang apa itu grunge, kelahiran grunge di Seattle yang kemudian mendunia hingga diserap Indonesia. Taukah kamu kalau para pencinta musik grunge punya kebiasaan bertukar flanel sebagai bentuk kenang-kenangan?



#GilaVinyl - Wahyu Acum

Koleksi vinyl itu merepotkan. Tapi, menurut Wahyu Acum yang juga dikenal sebagai pentolan band Bangkutaman, justru kerepotan itulah yang membuat menikmati musik dari vinyl menjadi sempurna. Lewat buku ini, Acum memandu kita untuk masuk ke kerepotan itu hingga kita larut dan malah menggilainya.

 

Pertama-tama, Acum mengajak kita untuk piknik kecil ke daerah-daerah yang banyak menjual vinyl. Lalu di bab (Track) kita diajak masuk ke rumah para kolektor Vinyl dan membaca cerita hasil obrol-obrol si kolektor dengan Acum. Mereka di antaranya adalah adalah Helvi Sjarifuddin, Arian13, Soleh Solihun, Vincent Rompies, Samson Pho, Ryan “D’ Masiv” dan Andien.

 

Membaca cerita mereka tentang vinyl pertama yang dibeli, perburuannya hingga ke luar negeri, dan melihat pajangan vinyl di rumah mereka pasti bikin kamu yang sudah mulai hobi untuk nabung lebih giat lagi demi #jajanvinyl

 

Nice Boys Don’t Write Rock n Roll - Nuran Wibisono

Di sampul buku, kita sudah diberitau bahwa buku ini adalah kumpulan tulisan Nuran periode 2007-2017. Ada 83 tulisan yang dibagi jadi 6 kategori yang kalau kalian baca satu artikel saja, berpotensi membuat kalian ingin mendengarkan band yang Nuran ulas dan lebih jauh lagi, kalian bisa ketularan Nuran untuk bercita-cita jadi penulis musik juga. Nuran menulisnya personal, asik, dan sangat mendalam.

 

Tema yang dikulik Nuran banyak. Dari musik tanah air hingga negeri lain. Kita diajak untuk mengkritik Ahmad Dhani yang sikapnya sekarang malah berlawanan dengan lirik-lirik keren yang dia buat, membahas 10 lagu terbaik Guns n Roses, lalu kenalan dengan asal usul musik elektronik di Indonesia yang sebenernya sudah hadir di Indonesia sejak 1963, hingga kini EDM jadi salah satu genre  yang disukai banyak anak muda, atau “minum” kopi sambil membongkar lagu dan kepribadian Iwan Fals.

 

Based on True Story - Idhar Resmadi

Ternyata ada banyak musisi yang ceritanya sudah dibuatkan buku biografi, misalnya Koes Plus, Fariz RM, dan yang hadir dalam bentuk komik, Naif serta Endank Soekamti. Tapi kami memilih untuk membahas biografi Pure Saturday yang berjudul Based on True Story buatan penulis musik kenamaan dari Bandung, Idhar Resmadi.

 

Sang Penulis agaknya tekun mengumpulkan data dan akrab banget sama para personel band hingga bisa menyajikan cerita komplit nan emosional tentang jatuh-bangun Pure Saturday. Kita juga bisa tahu cerita-cerita di balik lagu PS, proses rekaman tiap album, hingga kisruh yang disebabkan pergantian manajer dan vokalis.

 

100 Tahun Musik Indonesia – Denny Sakrie

Sebenarnya ada buku-buku lain yang ngebahas sejarah musik di Indonesia dalam perspektif luas, tapi di sini Hai memilih buku karya almarhum Denny Sakrie, salah satu pengamat musik legendaris yang kita punya. Selain tidak kalah lengkap bahasan sejarahnya, bahasa yang dipakai om Denny lebih kekinian. Lewat buku ini kita akan mengetahui sejarah musik Indonesia dari saat perusahaan rekaman saudagar Tionghoa berdiri di Indonesia pada 1905 hingga teknologi digital semakin terasa bawa perubahan di industri musik pada 2005.

 

Om Denny mengajak kita untuk mengingat momen ketika lagu-lagu bahasa asing dilarang dibawakan, kenalan dengan Benyamin Sueb yang keunikannya mengekspresikan diri bisa menjadikan Betawi jadi budaya populer, mengakrabi Rhoma Irama dengan rockdut-nya, dan menengok kembali kebangkitan musik indie di awal 2000-an serta fenomena musik melayu yang disukai  



Music Biz - Wendy Putranto

Kumpulan tulisan wartawan musik kawakan yang lama bekerja di majalah Rolling Stone ini akan memandu kita masuk, menjelajah, bertualang, menjadi penghuni atau hingga menguasai rimba industri musik di negeri kita.

 

Melalui tulisan bergaya feature-nya, Wendi Putranto memaparkan bagaimana cara menentukan nama serta image band, cara mematenkan hak cipta atas nama band dan lagu, peran dan fungsi label rekaman, manajer artis, produser, sound engineer dan road crew; dan. apa yang mesti dilakukan musisi jika ingin membuat big break di industri rekaman.

 

Tentu, buku ini bukan ditulis sekadar dengan menerjemahkan buku sejenis dari luar negeri, melainkan berdasarkan riset mendalam di industri musik lokal kita. Wendi observasi dan wawancara langsung para pelaku di berbagai bidang industri musik.  Ccerita pengalaman sejumlah musisi lokal seperti Arian “Seringai”, White Shoes and The Couples Company, The Brandals, Gigi, Peterpan (saat belum berubah nama menjadi NOAH), dll akan kita temukan di sini.

 

Behind The 8th Ball – Irfan Sembiring 

Buku ini merupakan catatan pribadi pendiri Rotor, band metal pertama di Indonesia almarhum Irfan Sembiring. Tentang album debut dan juga sekaligus perjalanannya bersama Rotor. Diterbitkan oleh penerbit yang paling rajin merilis buku, Elevation Books. Buku ini sangat direkomendasi buat pembaca musik, terutama musik metal dan band Rotor.

 

Kata Dochi New Edition - Dochi Sadega

Dochi Sadega sang bassis & vokalis dari band Pee Wee Gaskins ini menceritakan kenangannya dalam bermusik bersama para personil PWG. Namun tak hanya itu, ada banyak cerita tentang tongkrongan dan pergaulan, mertua, berbagai tips, hal-hal yang Dochi sukai, trivia, dan tentunya ceritanya dalam membangun band yang sudah memenangkan AMI Awards hingga dua kali ini.