Jurnal

Supergrup Musik: Bukan Sekedar Proyek Iseng Para Musisi Ternama image

Supergrup Musik: Bukan Sekedar Proyek Iseng Para Musisi Ternama

Apa itu supergrup? Menurut Wikipedia, supergrup adalah sebuah grup musik yang anggotanya terdiri dari artis solo atau personil band ternama. Ada yang terbentuk karena awalnya iseng, mau mencurahkan hasrat bermusik yang tidak tertampung di band sebelumnya, ada juga yang terbentuk karena tujuan tertentu, charity misalnya. Contoh lainnya mungkin karena band mereka sebelumnya bubar dan ingin melanjutkan bermusik dengan menarik personil dari berbagai band yang dikenal. 

Terlepas dari berbagai alasannya, banyak supergrup musik yang kemudian dijalani dengan serius, sering manggung, terkenal, dan albumnya laku terjual. Tapi tidak sedikit juga yang hanya merilis satu album, kemudian bubar. 

Terlepas dari berbagai fakta tersebut, supergrup musik adalah fenomena menarik di dunia musik. Kira-kira siapa saja contoh supergrup ini? Yuk kita bahas lebih lanjut.

  1. Cream

Editor majalah Rolling Stone, Jann Wenner mengungkapkan bahwa band rock asal Inggris Cream adalah supergrup yang pertama dikenal. Band ini terdiri dari gitaris Eric Clapton (The Yardbirds), bassist Jack Bruce (Graham Bond Organisation), dan drummer  Ginger Baker (Graham Bond Organisation). Terbentuk pada tahun 1966, masing-masing personil memiliki nama besar di skena musik Inggris dan memiliki skill yang mumpuni. Sayangnya Cream hanya berumur pendek, mereka resmi bubar pada tahun 1968, karena tensi yang semakin tinggi antara Jack Bruce dan Ginger Baker. Di band sebelumnya, dua orang ini memang terkenal tidak akur dan sering berseteru. Meskipun demikian, Cream berhasil merilis 4 album penuh; Fresh Cream (1966), Disraeli Gears (1967), Wheels Of Fire (1968), dan album perpisahan berjudul Goodbye (1969). 

Walaupun umurnya pendek, Cream dianggap sebagai band yang penting untuk sejarah  rock and roll. Pada 1993, band ini masuk ke dalam  Rock and Roll Hall of Fame dan kembali bergabung manggung bareng untuk event seremonial di museum ini. Cream juga sempat melakukan konser reuni di London dan New York pada tahun 2005 dan masuk ke dalam daftar “100 Greatest Artist Of All Time” dari majalah musik Rolling Stone.

 

  1. Led Zeppelin

Band rock legendaris asal Inggris ini terbentuk pada tahun 1968 dan beranggotakan vokalis Robert Plant (Band of Joy), gitaris Jimmy Page (The Yardbirds), bassist/keyboardist John Paul Jones, dan drummer John Bonham (Band of Joy). Awalnya bernama the New Yardbirds, mereka terpaksa mengganti nama menjadi Led Zeppelin karena tuntutan dari bassis the Yardbirds, Chris Dreja. Setelah resmi berganti nama, Led Zeppelin merilis album debut swanama mereka pada tahun 1969. Sepanjang karir mereka, Led Zeppelin merilis 8 album penuh, melakukan tour ke berbagai negara, dan lagu-lagu mereka masuk ke berbagai daftar tangga lagu.

 

Pada puncak kejayaannya, Led Zeppelin sempat melakukan konser yang ditonton oleh lebih dari 100.000 orang, sebelum akhirnya bubar pada tahun 1980 karena kematian drummer John Bonham. Selepas meninggalnya John Bonham, band ini merilis album terakhir mereka yang berjudul Coda pada tahun 1982. Berisi lagu-lagu dari sesi rekaman sebelumnya, Coda juga dirilis untuk memenuhi kewajiban kontrak mereka untuk perusahaan rekaman Atlantic Records. Led Zeppelin adalah band yang sukses secara komersial, paling inovatif, dan berpengaruh besar untuk musik rock. Penjualan album mereka secara keseluruhan menembus angka 200 juta kopi secara global, Led Zeppelin menjadi cetak biru sebuah band yang bisnisnya dikelola dengan baik.

 

  1. USA for Africa

USA for Africa adalah supergrup yang dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan amal untuk membantu korban kelaparan di benua Afrika, khususnya di Ethiopia. Melibatkan lebih dari 50 nama besar musisi paling terkenal pada era itu, seperti Michael Jackson, Lionel Richie, Stevie Wonder, Bob Dylan, Tina Turner, Bruce Springsteen, dan banyak lagi. USA for Africa merekam single berjudul “We Are The World” dengan Michael Jackson dan Lionel Richie sebagai penulis lagu. “We Are The World” resmi dirilis pada tanggal 7 Maret 1985 dan terjual habis sebanyak 800.000 kopi dalam 3 hari. Single ini juga dinobatkan sebagai best-selling untuk tahun 1985, dan perkiraan total penjualan secara global sebanyak 20 juta kopi. 

 

  1. Temple Of The Dog

Diprakarsai oleh Chris Cornell (Soundgarden), sebagai tribute untuk sahabatnya Andrew Wood vokalis Mother Love Bone yang meninggal pada 19 Maret 1990. Band ini juga berisi Stone Gossard (Mother Love Bone) dan Mike McCready pada gitar, Jeff Ament (Mother Love Bone) pada bass, dan Matt Cameron (Soundgarden) pada drum. Eddie Vedder ikut berpartisipasi sebagai vokalis tamu dan vokalis utama pada beberapa lagu. Temple Of The Dog merilis album swanama mereka pada 16 April 1991 dibawah A&M Records. Band ini juga merupakan cikal bakal terbentuknya Pearl Jam, salah satu band yang mempopulerkan grunge dan Seattle sound di dekade 90an. Album Temple Of The Dog mendapatkan kesuksesan yang tertunda, karena popularitasnya justru didapat pada tahun 1992, dimana banyak orang menyadari bahwa band ini adalah gabungan dari Soundgarden dan Pearl Jam yang saat itu popularitasnya sedang menanjak.  

 

  1. Foo Fighters

Berawal dari proyek solo seorang Dave Grohl selepas bubarnya Nirvana di tahun 1994, Foo Fighters merilis debut album swanama mereka pada tahun 1995. Walaupun awalnya hanya Dave Grohl seorang yang memulai band ini, personil lain dari Foo Fighters datang dari berbagai band yang yang cukup berpengaruh dan rasanya pantas untuk menobatkan mereka sebagai sebuah supergrup. Selain Dave Grohl yang berperan sebagai vokalis dan gitaris, ada Pat Smear (The Germs) dan Chris Shiflett (No Use For A Name) pada gitar, Nate Mendel (Sunny Day Real Estate) pada bass,dan Taylor Hawkins (Alanis Morissette) sebagai drummer. Belakangan mereka juga menambah personil baru yaitu keyboardis Rami Jaffee (The Wallflowers). Terus aktif berkarya dan sudah merilis 10 album penuh, dengan album terbaru Medicine at Midnight yang dirilis pada tahun 2021, Foo Fighters adalah salah satu band rock yang popularitas dan prestasinya sulit ditandingi di era ini. Sepanjang karir mereka, Foo Fighters sudah mengantongi total 12 Grammy Award yang dimenangkan dari berbagai kategori.

 

  1. A Perfect Circle 

Didirikan oleh gitaris Billy Howerdel (teknisi gitar Tool) dan vokalis Tool Maynard James Keenan pada tahun 1999, mereka merilis debut Mer De Noms pada 23 Mei 2000 yang disambung tour perdana mereka dengan formasi Maynard James Keenan (vokal), Billy Howerdel (gitar), Troy Van Leeuwen (gitar), Paz Lenchantin (bass) dan Josh Freese (drum). Mer De Noms mendapatkan respon hangat dari fans dan pujian dari kritikus musik. Album ini juga sukses terjual sebanyak 188.000 kopi pada minggu pertamanya dan meraih sertifikat platinum pada tanggal 31 Oktober di tahun yang sama. Walaupun pada awalnya dibayangi oleh nama besar Maynard James Keenan sebagai vokalis Tool, di A Perfect Circle dia berusaha untuk selalu membedakan penampilannya dari sosoknya saat beraksi bersama Tool. Hal tersebut, ditambah dukungan Billy Howerdel sebagai penulis lagu utama dan musisi lainnya yang memang punya nama besar dan jam terbang tinggi, A Perfect Circle mendapat sambutan hangat setiap kali merilis karya baru, hingga akhirnya mereka sempat vakum pada tahun 2005 karena masing-masing sibuk dengan proyek utama mereka. Pada masa itu, vokalis Maynard harus fokus untuk rekaman album baru Tool yang pada tahun 2006 dirilis dengan judul 10.000 Days. A Perfect Circle kembali aktif manggung pada tahun 2010 dengan perubahan personil. Beberapa musisi lain yang juga pernah mengisi formasi A Perfect Circle adalah Danny Lohner (Nine Inch Nails), Jeordie White alias Twiggy Ramirez (Marilyn Manson), Greg Edwards (Failure), dan Tim Alexander (Primus). A Perfect Circle terakhir merilis album berjudul Eat The Elephant pada tahun 2018.



  1. Fantômas

Diambil dari nama seorang penjahat dari novel kriminal Perancis pada era perang dunia 1, Fantomas dibentuk oleh Mike Patton saat Faith No More berada di ambang keruntuhan pada tahun 1998. Mike Patton awalnya mengirimkan demo lagu-lagu grindcore/metal eksperimental ke Buzz Osborne (the Melvins), Trevor Dunn (Mr. Bungle) dan Igor Cavalera (Sepultura) dengan tujuan untuk membentuk sebuah supergroup. Sayangnya Igor Cavalera menolak, namun dia merekomendasikan seseorang yang dirasa sempurna untuk bergabung dengan band ini yaitu Dave Lombardo (ex-Slayer).  Singkat cerita, Dave Lombardo setuju untuk bergabung dan akhirnya Fantômas merilis album debut mereka di tahun 1999 yang berisi 30 lagu! Sepanjang karir band ini, mereka sudah merilis 4 album penuh dengan tema dan konsepnya masing-masing. Favorit saya pribadi adalah Director’s Cut yang dirilis pada tahun 2001 dan berisi lagu-lagu tema dari berbagai film. Beberapa dibawakan mirip-mirip dengan lagu aslinya, namun sebagian besar dirombak secara radikal yang menghadirkan nuansa baru dengan pendekatan yang cukup ekstrim. Semua album Fantômas dirilis oleh label Ipecac milik Mike Patton. 

 

  1. Ahmad Band

Dari tanah air, haram rasanya membicarakan supergrup tanpa menyebut nama Ahmad Band. Walaupun umurnya pendek dan hanya merilis 1 album saja, ya betul cuma 1 album saja! Tapi album Ideologi Sikap Otak dengan cover yang fenomenal, simbol narsisme maksimal dari seorang Ahmad Dhani, menjadi album yang membekas untuk pecinta musik Indonesia. Selain Ahmad Dhani sebagai vokalis, ada Andra Ramadhan (Dewa 19) dan Pay Burman (ex-Slank) pada gitar, Bongky Marcel (ex-Slank) pada bass, dan Bimo Sulaksono (ex-Netral) sebagai drummer. Dirilis di era reformasi, album ini sarat dengan kritik sosial seperti di lagu “Distorsi” contohnya. Namun bukan Ahmad Dhani kalau tidak menyertakan lagu dengan tema cinta di karyanya. “Aku Cinta Kau dan Dia” adalah lagu yang mendayu-dayu namun tidak terdengar sebagai lagu romantis picisan.”Aku Cinta Kau dan Dia” sangat populer pada masanya dan menjadi lagu pengiring banyak orang yang hatinya hancur berantakan karena cinta yang terbagi dua. Karena materi album yang sangat kuat dan personil yang terdiri dari nama-nama besar di industri musik tanah air, tidak heran album ini menjadi sangat berkesan untuk banyak orang karena hasilnya juga luar biasa. Ahmad Band sempat melakukan reuni di tahun 2021, namun formasi awal mereka tetaplah yang terbaik dan tak tergantikan.

 

Honorable mentions:

 

  1. Darksovls dan BongaBonga

Layak disebut sebagai supergroup metal lokal terkini, karena tentu saja secara musikalitas semua personilnya memiliki skill yang mumpuni dan punya jam terbang tinggi. Namun yang unik semua anggota kedua band diatas pernah berlabuh di band Dead Squad, sebelum akhirnya satu persatu mental karena berbagai alasan. Kedua band ini memiliki irisan personil, dimana Daniel Mardhany sebagai vokalis, Bonnie Sidharta sebagai basis, dan Coki Bollemeyer sebagai gitaris baik untuk BongaBonga dan DarkSovls. Selebihnya ada Andyan Gorust di drum untuk DarkSovls, serta Welby Cahyadi pada gitar dan Alvin Eka Putra pada drum di Bongabonga. 

 

Meski sama-sama memainkan metal, Darksovls dan Bongabonga punya gayanya masing-masing. Darksovls memainkan death metal secara utuh dan paripurna, dibuktikan dengan single perdana mereka “Kahar” yang sudah dilepas di berbagai platform digital. Sedangkan Bongabonga memainkan thrash-metal dengan dibumbui kejenakaan dan nuansa yang lebih ceria dan penuh warna, walaupun liriknya tetap cukup serius memotret kondisi sosial masyarakat. Tidak sabar rasanya menunggu rilisan-rilisan selanjutnya dari kedua band ini dan menyaksikan aksi mereka di berbagai panggung saat pandemi sudah surut dan pertunjukkan musik mulai marak lagi.

 

  1. Bloodbath

Kalau kalian Google nama band ini, langsung nampak tulisan supergroup! Ya betul, dari ranah death metal ada Bloodbath. Band ini adalah Swedish death metal supergroup yang terbentuk di tahun 1998. Nama Bloodbath sendiri diambil dari lagu “Blood Bath” dari album To the Gory End dari band extreme metal asal Inggris, Cancer. Debut album Bloodbath yang berjudul Resurrection Through Carnage dirilis pada tahun 2002 dengan formasi Mikael Åkerfeldt (Opeth) pada vokal, Dan Swano (Nightingale) pada drum, Anders Nyström (Katatonia) pada gitar, dan Jonas Renkse (Katatonia) pada bass. Sepanjang karirnya, Bloodbath mengalami pertukaran posisi dan pergantian personil. Konflik jadwal dan fokus dari beberapa personil yang memang sebelumnya tergabung dengan band lain menjadi salah satu alasan terjadinya hal tersebut. Namun demikian, Bloodbath tetap produktif berkarya dan mengeluarkan rilisan baru. Total 5 album penuh, 2 EP, dan 2 album live yang pernah mereka rilis. Dengan The Arrow of Satan is Drawn pada tahun 2018 sebagai album yang paling bontot dengan artwork yang sangat keren dan musik yang intens. Formasi terakhir Bloodbath adalah Anders Nyström (Katatonia) sebagai gitaris, Jonas Petter Renkse (Katatonia) sebagai bassis, Erik Martin Axenrot (ex-Opeth) pada drum, dan Nick Holmes (Paradise Lost) sebagai vokalis.

Beberapa nama diatas hanyalah segelintir dari sekian banyak supergrup musik yang ada di luar sana. Sebagai pecinta musik, sangat menarik melihat deretan musisi idola kita tergabung dalam sebuah band yang sama dengan dinamikanya masing-masing. Tentunya akan ada banyak lagi supergrup-supergrup baru yang akan terbentuk di masa depan, mari kita sama-sama tunggu bagaimana kiprah mereka dalam menghiasi industri musik dunia.

 

Penulis : Febri

Design : Adam