Jurnal

Nu-metal: Cerita Dan Warisan image

Nu-metal: Cerita Dan Warisan

Dibenci dan dicinta, dihujat namun dipuja, diremehkan namun populer dan meninggalkan pengaruh besar untuk perkembangan musik. Untuk pecinta musik yang tumbuh besar di dekade 90an dan 2000an awal, pasti akrab dengan band yang memainkan nu-metal atau yang biasa disebut juga sebagai hip-metal di Indonesia. Untuk kalian yang mungkin kurang familiar dengan nu-metal, yuk mari kita bedah secara singkat. 

Karakteristik

Nu-metal adalah sebuah sub-genre dari heavy metal yang menggabungkan unsur-unsur hip hop, funk, industrial, grunge, dan banyak lagi pengaruh dari genre musik lainnya. Untuk instrumennya, banyak gitaris nu-metal menggunakan gitar bersenar tujuh yang disetel turun untuk mendapatkan suara yang lebih heavy. Beberapa band nu-metal juga memiliki DJ untuk menghasilkan eksperimentasi suara elektronik, sampling, dan scratching menggunakan turntable. 

Sementara dari segi vokal, band-band nu-metal identik dengan gaya vokal nge-rap dan bernyanyi diselingi scream/growl. Dengan lirik yang bersifat personal, mengangkat tema-tema depresi, kebencian, perundungan, ataupun trauma. Nggak heran banyak sekali lagu-lagunya yang terdengar sangat agresif dan penuh kemarahan. 

Band-band nu-metal juga memiliki gaya berpakaian yang cukup unik. Ada yang terpengaruh hip hop dengan memakai celana baggy, tracksuit Adidas, jersey olahraga, hoodie, dan topi baseball. Ada yang menggunakan makeup dan dandanan gothic. Ada juga yang menggunakan topeng dan kostum yang seragam. Tentunya masih banyak lagi variasi gaya dandan dan berpakaian dari band-band nu-metal.

Beberapa yang cukup ikonik adalah gaya Fred Durst dari Limp Bizkit yang identik dengan topi baseball merah, celana warna khaki, dan sepatu Adidas Superstar. Contoh lainnya adalah penampilan Jonathan Davis dari Korn yang memakai setelan tracksuit atau yang paling mencolok adalah memakai bawahan rok khas Skotlandia yang disebut Kilt, karena memang dia memiliki garis keturunan asal negara itu dari pihak ibu.

Puncak dan surutnya popularitas nu-metal 

Akhir dekade 90an dan juga dekade 2000an awal, nu-metal mencapai puncak popularitasnya. Ada banyak sekali band nu-metal pada masa itu, masing-masing punya gaya musiknya sendiri. Mulai dari yang underrated seperti Mudvayne dan Spineshank, sampai yang sukses secara mainstream dan merajai chart musik di masa itu. Band-band seperti Korn, Limp Bizkit, dan Linkin Park adalah beberapa diantaranya yang sangat populer dan albumnya laku terjual hingga jutaan kopi. Album Follow The Leader dari Korn yang dirilis pada tahun 1998 sangat meledak dan menembus angka penjualan 14 juta kopi di seluruh dunia. Sedangkan album Hybrid Theory dari Linkin Park yang dirilis pada tahun 2000 mencatat penjualan sebesar 27 juta kopi di seluruh dunia.

Walaupun sangat populer, banyak sekali yang membenci nu-metal. Stigma buruk seolah cukup melekat di genre musik ini! Alhasil banyak band-band yang notabene besar di era nu-metal secara tegas menolak dicap sebagai nu-metal. Slipknot dan Deftones adalah beberapa diantaranya yang memberikan statement keras dan menolak diasosiasikan dengan nu-metal. Genre ini dicap norak  serta dianggap sebagai trend sesaat. Hal tersebut mungkin ada benarnya, karena di pertengahan dekade 2000an popularitas nu-metal menyurut dan banyak band-bandnya yang hilang ditelan zaman. Salah satu contohnya adalah CrazyTown yang dikenal sebagai band one hit wonder dengan single “Butterfly” dari album The Gift of Game yang dirilis pada tahun 1999. Album kedua yang jeblok membuat band ini pelan-pelan terlupakan. 

Pengaruh musik

Suka atau tidak, tidak bisa dipungkiri bahwa genre nu-metal pernah sangat popular dan memberikan pengaruh besar untuk band-band rock/metal modern seperti Code Orange, My Ticket Home, Loathe, Issues, Vein.FM, atau bahkan Bring Me The Horizon.

Selain pernah mengcover lagu “Eyeless” dari Slipknot yang dimuat sebagai bonus track di album mereka Count Your Blessing.



Yang mendapat pujian langsung dari Corey Taylor, vokalis Slipknot (sumber)

Suicide Season yang merupakan album penuh kedua dari Bring Me The Horizon adalah salah satu contoh pengaruh nu-metal yang diserap oleh band rock/metal modern. Di track pertama yang berjudul “Comedown” bisa didengarkan pengaruh dari Slipknot. Di album ini, BMTH meninggalkan roots deathcore-nya dan mulai menggabungkan unsur-unsur dari berbagai genre musik.  Hal ini terus berlanjut ke album-album berikutnya mengiringi evolusi musik mereka. 

Contoh lainnya adalah Code Orange, band hardcore-punk asal Amerika yang sebelumnya dikenal sebagai Code Orange Kids. Pengaruh nu-metal semakin nyata terdengar di beberapa album terbaru mereka yaitu Forever dan Underneath yang mulai memasukkan unsur grunge, elektronik, dan industrial. Kedua album tersebut juga masuk nominasi penghargaan musik bergengsi Grammy Awards untuk kategori Best Metal Performance di tahun 2018 dan 2021.

Penutup

Untuk sebagian dari kita, lagu-lagu seperti “Got The Life” dari Korn, “People = Shit” dari Slipknot, dan “One Step Closer” dari Linkin Park bisa jadi merupakan lagu-lagu yang tergolong klasik dan menjadi salah satu lagu favorit sepanjang masa. Nama-nama besar seperti Korn, Slipknot, dan Limp Bizkit juga masih aktif merilis album baru dan merchandisenya masih tetap dicari.

Dan terakhir nih, kalau kalian juga penasaran gimana sih evolusi genre nu-metal sampai sekarang? Tim Rock Nation membuat playlist berisi lagu-lagu nu-metal dari berbagai generasi. Dengarkan playlistnya dibawah ini:



Penulis : Febri

Design : Adam