Jurnal

Emo: Bukan Hanya Sekedar Trend Belaka image

Emo: Bukan Hanya Sekedar Trend Belaka

Meledaknya genre emo di dekade 2000an awal, tidak hanya sebagai trend, tapi juga sebuah fase kehidupan remaja di era itu. Masih ingat dengan masa-masa dimana kamu sering nonton gigs di berbagai tempat, dimana lineup-nya dipenuhi dengan berbagai band yang memainkan musik emo, baik lagu sendiri maupun cover dari berbagai band favorit kalian? Yuk mengenang kembali masa-masa dimana emo pernah menjadi bagian penting dari kehidupan kita semua.

Sejarah

Emo berasal dari perkembangan musik hardcore-punk, di area Washington DC pada pertengahan dekade 80an. Kemudian dikenal sebagai emotional hardcore atau emocore, dengan pionir nya seperti Rites of Spring dan Embrace. Bercirikan isian gitar yang lebih melodik, variasi ritem gitar, dan lirik yang bersifat lebih emosional dan personal. Genre emo terus berevolusi dan di dekade 90an musiknya menjadi lebih berkembang. Ada beberapa band yang lebih kental dengan unsur hardcore-punk seperti Jawbreaker dan Lifetime, menggabungkan elemen indie-rock seperti Sunny Day Real Estate dan Jimmy Eat World, dan ada yang lebih agresif dengan vokal berteriak dan musik bertempo cepat (dikenal dengan istilah screamo/emo-violence) seperti Orchid dan Reversal Of Man. Tentunya masih banyak lagi band-band yang berpengaruh di era itu. Masing-masing sub-genre dengan band-bandnya punya tempat tersendiri di skena musik underground Amerika, sebelum akhirnya genre ini mencapai puncak popularitas di dekade selanjutnya dan menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Booming Dan Meledaknya Popularitas Emo Di Dekade 2000an Awal

Memasuki dekade 2000an, popularitas emo semakin menanjak. Ada dua label rekaman independen yang memiliki peran penting untuk genre ini, yaitu Vagrant dan Drive-Thru Records. Keduanya adalah label independen asal Amerika yang mengeluarkan beberapa rilisan penting untuk perkembangan genre emo. Vagrant Records merilis album-album esensial dari beberapa band seperti; Something To Write Home About dari The Get Up Kids di tahun 1999, The Places You Have Come To Fear The Most dari Dashboard Confessional, dan Stay What You Are dari Saves The Day yang keduanya dirilis pada tahun 2001. Sementara itu Drive-Thru Records punya What It Is To Burn dari Finch yang dirilis pada tahun 2002, Say It Like You Mean It dari The Starting Line juga di tahun 2002, dan Let It Enfold You dari Senses Fail yang dirilis pada tahun 2004. Tentu saja masih banyak label rekaman lainnya yang merilis album penting dari berbagai band emo, namun kedua label  tersebut tidak hanya memiliki etos kerja d.i.y yang kuat, mereka juga berusaha keras dalam menghasilkan rilisan yang berkualitas dan mempromosikannya dengan cara yang tepat. Baik Vagrant maupun Drive-Thru Records sukses mengantarkan band-band di roster mereka dalam mengembangkan karirnya.  

Di era 2000an juga banyak band emo yang dipinang oleh berbagai label rekaman besar. Jimmy Eat World yang merilis album Bleed American dibawah DreamWorks Records, dengan hit single seperti “The Middle”, “Sweetness”, dan “A Praise Chorus”. My Chemical Romance dengan Three Cheers For Sweet Revenge yang dirilis oleh Reprise Records dengan hit single seperti “I’m Not Okay (I Promise)”, “Helena”, “The Ghost Of You”, dan “Thank You For The Venom”. Selain 2 band tersebut, Paramore, Fall Out Boy, The Used, AFI, The All American Rejects, Thursday, Story of the Year dan Saosin adalah beberapa band emo lainnya yang albumnya juga dirilis oleh perusahaan rekaman besar. Pada era itu, banyak band-band non-mainstream yang meskipun secara musik memiliki roots yang berbeda-beda, asalkan secara sound dan musik memiliki kemiripan dengan tipikal band emo kebanyakan, media akan menyematkan label emo untuk mereka. Jadi jangan heran, pelabelan emo sendiri menjadi cukup rancu. 

Masuknya Trend Emo Di Indonesia

Genre emo sendiri mulai masuk di Indonesia pada awal dekade 2000 an, salah satu yang pernah mengangkatnya adalah majalah MTV Trax lewat sebuah ulasan singkat yang ditulis oleh Arian 13. Beberapa band emo generasi awal seperti Killed By Butterfly, Alone At Last, Seems Like Yesterday, Jolly Jumper, mulai aktif di sirkuit skena independen Jakarta dan Bandung. Kemudian disusul dengan album kompilasi rilisan beberapa label independen yang berisi band-band yang dikategorikan emo. Salah satu rilisan yang cukup penting adalah Anthems of Tomorrow rilisan dE Records (2004) yang berisi The Side Project, Friends Of Mine, Dagger Stab, Sweet As Revenge, dan banyak lagi. Di tahun-tahun berikutnya, semakin banyak band yang melabeli musik mereka emo bermunculan di berbagai kota-kota besar di Indonesia. Media juga semakin sering mengulas mengenai genre emo dan band-bandnya baik dari dalam maupun luar negeri, karena semakin banyak rilisan emo yang bisa ditemui di berbagai toko musik besar maupun di distro-distro yang tersebar di berbagai penjuru tanah air. Puncaknya adalah sebuah tour bertajuk Macbeth x Crooz Indonesian Tour yang diadakan pada tahun 2009. Tour yang diinisiasi oleh brand clothing Crooz asal Jakarta, bekerja sama dengan Macbeth (brand sepatu yang salah satu foundernya adalah Tom Delonge ex-Blink 182) dan juga di-support oleh Peter Says Denim, hadir di 5 kota di pulau Jawa dan Bali yang mampu menyedot total puluhan ribu penonton di keseluruhan rangkaian tour ini.  

Karakteristik Musik, Lirik Dan Gaya Berpakaian

Secara musik, band-band emo memainkan musik yang melodik, dibawakan secara ekspresif, dengan vokal bernyanyi yang diselingi dengan teriakan menyayat. Liriknya lebih bersifat personal, mengungkapkan kekecewaan, kesedihan, serta menyuarakan kegelisahan yang dirasakan.   

Gaya berpakaian pecinta musik emo atau yang biasa disebut sebagai emo kids juga memiliki ciri khas. Seperti skinny jeans, kaos ketat merchandise band favorit, ikat pinggang stud, kadang berwarna putih dan dilengkapi dengan buckle, rambut poni lempar yang kadang di highlight warna-warna mencolok, serta sebagian ada juga yang memakai eyeliner hitam. Subkultur emo memiliki stereotype yang diasosiasikan dengan orang-orang yang terbuang, sensitif, dan introvert. 

Surutnya Popularitas Emo Dan Kebangkitan Kembali

Di awal dekade 2010, popularitas emo mulai menyurut. Banyak band-band nya seperti My Chemical Romance, Thursday, dan Alexisonfire menyatakan bubar. Sementara band-band lainnya seperti Paramore, dan Fall Out Boy meninggalkan predikat emo dan merubah gaya musik mereka.

Meskipun tidak pernah betul-betul mati, emo perlahan mulai ditinggalkan. Mereka yang menyatakan diri sebagai emo kids mulai tumbuh dewasa, melanjutkan hidup dan meninggalkan fase emo mereka.

Namun pada akhir tahun 2019, tiba-tiba My Chemical Romance mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka akan kembali aktif, yang dilanjutkan dengan pengumuman bahwa mereka akan menggelar konser reuni pada 20 Desember 2019 dan menggandeng Thursday sebagai band pembuka. Yang seharusnya berlanjut dengan rangkaian tour, akhirnya terpaksa ditunda karena pandemi Covid-19 yang melanda dunia di tahun 2020. Beberapa band juga kembali reuni dan berencana merilis album baru. Hingga puncaknya pada awal tahun 2022 ini, publik dikejutkan dengan pengumuman When We Were Young Festival yang akan diadakan pada bulan Oktober. Dengan lineup berisi puluhan band populer dari era kejayaan emo, festival ini langsung trending dan menjadi perbincangan hangat di seluruh dunia. Apakah ini akan menjadi cikal bakal kebangkitan emo? Mari sama-sama kita tunggu perkembangannya.

Untuk menemani nostalgia kalian mengenang jaman emo, berikut ini kami sertakan juga playlist berisi deretan lagu-lagu emo favorit




Penulis : Febri

Design : Adam