Jurnal

Alat Pemutar Musik Dari Masa Ke Masa image

Alat Pemutar Musik Dari Masa Ke Masa

Di zaman sekarang, adalah hal yang umum untuk kita mendengarkan musik menggunakan perangkat seluler kapanpun dan dimanapun. Beberapa dekade lalu tentunya hal ini menjadi sebuah konsep yang abstrak. Untuk mendengarkan musik kita membutuhkan waktu khusus dan usaha ekstra, karena hanya bisa dilakukan menggunakan alat pemutar musik yang ukurannya cukup besar dan musik yang ingin didengarkan masih berupa media fisik. Seiring dengan perkembangan zaman, alat pemutar musik menjadi lebih ringkas, dengan ukuran yang kecil, dan mudah dibawa kemana-mana. Demikian juga dengan musik itu sendiri, sekarang sudah ada format digital yang bisa kita akses lewat perangkat seluler dari mana saja selama ada koneksi internet.

Tapi bagaimana dengan perkembangan alat pemutar musik? Mulai dari awal ditemukan di masa lalu sampai ke zaman modern? Mari kita gali lebih dalam lagi sejarahnya.

Pemutar Musik Pertama

Phonautograph, Phonograph Dan Gramophone

Penemu asal Perancis, Édouard-Léon Scott de Martinville menemukan alat perekam dan pemutar musik yang disebut Phonograph pada awal abad ke-18. Namun niat awalnya adalah bukan untuk memainkan rekaman suara, alat ciptaanya ini bertujuan untuk merekam berbagai getaran suara dalam bentuk visual dan menerjemahkannya untuk dipelajari lebih lanjut. Walaupun bukan sebuah mesin pemutar rekaman, Phonograph memiliki peran penting untuk perkembangan alat pemutar musik di masa depan.

Alat putar dan rekam musik pertama yang sebenarnya, kemudian diciptakan oleh Thomas Edison pada bulan Juli 1877. Alat yang dikenal dengan nama Phonograph ini menangkap suara dan mengukir getarannya di kertas timah. Dengan bantuan ahli mekanik John Kruesi, Edison menyelesaikan pembuatan mesin Phonograph pertama pada bulan Desember di tahun 1877. Suara pertama yang direkam dan diputar adalah lagu berjudul “Mary Had A Little Lamb”, sebuah lagu anak-anak populer pada masa itu. Walaupun kualitasnya buruk dan hanya bisa diputar sekali, Edison secara tidak sengaja memicu evolusi industri musik dan mengabadikan namanya sebagai  penemu terbesar pada abad itu.

Phonograph kemudian berkembang menjadi Graphophone lewat sentuhan Alexander Graham Bell, yang memilih menggunakan silinder bahan lilin sebagai media yang lebih efektif untuk merekam suara. Di era yang sama, penemu Emile Berliner mengembangkannya lebih lanjut, melakukan modifikasi dan memanfaatkan alur pada cakram datar. Cakram tersebut diketahui sebagai versi paling awal rekaman suara yang kemudian berkembang menjadi piringan hitam. Berliner mematenkan penemuannya yang dikenal sebagai Gramophone. Gramophone dan media rekaman berbentuk piringan hitam menjadi format yang populer digunakan pada awal abad ke 19 dan seterusnya. 

 

Perkembangan Pemutar Musik

Tape Deck Dan Walkman

Industri musik yang terus berkembang, menghasilkan berbagai penemuan baru, termasuk menciptakan media musik dan alat pemutarnya yang lebih efektif, mudah digunakan, dan tentu saja harganya murah. Setelah media berbentuk kaset menggunakan film plastik dengan dua kumparan yang ditempatkan di dalam selongsong plastik ditemukan dan diperkenalkan oleh perusahaan bernama Philips pada September 1963. Mereka juga kemudian mengembangkan alat pemutarnya Alat pemutar kaset yang pertama sebetulnya didesain untuk digunakan di dalam mobil, kemudian dikembangkan dan diproduksi secara massal untuk penggunaan yang lebih luas. Kita mengenal tape deck dan berbagai variannya yang umum digunakan sebagai pemutar musik pada era itu. Pemutar kaset versi portable yang dikeluarkan oleh perusahaan Sony pada tahun 1979 (dikenal sebagai Walkman) memudahkan penikmat musik untuk mendengarkan kaset, karena ukurannya yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana. Di dekade 80 sampai pertengahan 90an, tape deck, dan walkman menjadi pemutar musik yang populer di seluruh dunia, bahkan di Indonesia.

CD Player, Boombox, Discman

Philips bekerja sama dengan Sony, berusaha mengembangkan media baru untuk menyimpan dan memutar data audio. Format yang kemudian dikenal sebagai Compact Disc atau CD ini resmi diluncurkan pada tahun 1982, beserta alat putarnya yaitu CD player. CD player itu sendiri bisa menjadi bagian dari sistem stereo rumahan, sistem audio mobil, dan PC. Sony juga mengembangkan walkman untuk memutar CD dengan versi portable. Resmi diluncurkan pada tahun 1984, pemutar CD portable ini dipasarkan sebagai Discman. Salah satu alat putar CD yang juga populer, dikenal dengan nama Boombox. Boombox biasanya dilengkapi juga dengan pemutar kaset serta transistor radio yang menerima gelombang AM/FM. Seiring dengan perkembangannya, pemutar CD menjadi pilihan yang lebih populer dan mulai menggeser pemutar kaset. Hingga awal dekade 2000an, CD player menjadi pilihan utama untuk mendengarkan musik. 

MP3 Player Dan iPod

Dengan ditemukannya format digital audio, tentunya kita semua familiar dengan apa yang disebut MP3. Sebagai hasil pengembangan untuk format digital, MP3 yang resmi diluncurkan pada 16 Desember 1991 menjadi format audio yang lekas menanjak popularitasnya. Hal tersebut tentunya diiringi juga dengan perkembangan alat putarnya. Di dekade awal 2000an, ada banyak sekali pemutar MP3 yang bisa dipilih oleh publik. Salah satu yang paling fenomenal tentu saja iPod yang dikeluarkan oleh perusahaan Apple. Dirilis dengan berbagai pilihan kapasitas penyimpanan, iPod menjadi pemutar musik versi digital pilihan banyak orang. Namun berhubung iPod dijual dengan harga yang relatif tinggi, di pasaran juga tersedia berbagai pilihan pemutar musik digital dari berbagai merk dengan harga yang lebih terjangkau. 

Telepon Seluler Dan Layanan Digital Streaming 

Seiring dengan perkembangan teknologi, perangkat telepon seluler juga semakin canggih dan dilengkapi dengan berbagai fitur yang mendukung untuk memutar digital audio. Dari yang awalnya digunakan sebagai media penyimpan dan pemutar musik digital, akhirnya perangkat ponsel bisa digunakan juga untuk berbagai aplikasi media streaming, termasuk digital audio. 2 nama terdepan untuk platform streaming adalah Spotify dan Apple Music. Spotify yang resmi berdiri pada 23 April 2006 di Swedia, awalnya mengedepankan layanan P2P dimana user bisa mendengarkan lagu dari server mereka atau dari sesama pengguna. Di tahun 2014, Spotify resmi menyetop layanan P2P dan fokus untuk layanan digital streaming yang lebih cepat dan mulus. Perusahaan Apple yang sebelumnya kita kenal dengan iTunes sebagai penyedia file digital yang bisa diunduh secara resmi, juga meluncurkan Apple Music pada 30 Juni 2015 sebagai penyedia layanan sejenis. Selain Spotify dan Apple Music, masih ada beberapa perusahaan lain sebagai penyedia layanan yang sama. Nama-nama seperti Joox, Deezer, Napster, dan sebagainya juga menjadi alternatif platform streaming yang bisa dipilih oleh pengguna. Hingga saat ini, hampir sebagian besar penikmat musik menggunakan telepon seluler mereka yang dilengkapi aplikasi streaming platform sebagai cara utama untuk mendengarkan musik. Menurut data yang dirilis oleh organisasi yang mewakili industri rekaman internasional (IFPI), pada akhir tahun 2020 ada sekitar 443 juta pengguna layanan platform streaming dengan prediksi akan terjadi peningkatan sebanyak 7,4% pada tahun 2022.

 

Penulis : Febri

Design : Adam