Jurnal

Musisi Dengan Keturunan Darah Indonesia image

Musisi Dengan Keturunan Darah Indonesia

Musisi mancanegara yang sudah memiliki nama besar dan terkenal ternyata banyak yang berketurunan darah Indonesia. Mereka sukses mencapai karir tertingginya berkat karya-karya mereka yang canggih tentunya. Tetapi, tidak satupun dari mereka melupakan asal mereka, yaitu Indonesia. Berikut tim Rock Nation serukan beberapa musisi internasional yang berketurunan darah Indonesia. 

 

The Tielman Brothers

The Tielman Brothers merupakan grup musik yang didirikan oleh kakak-beradik asal Indonesia, Andy, Reggy, Ponthon, dan Loulou Tielman pada 1947. Meski sang ayah keturunan Kupang, Nusa Tenggara Timur, mereka lebih memilih untuk tinggal dan menetap di negara asal sang ibu, yakni Belanda.

Pada 1958, The Tielman Brothers dipercaya untuk menjadi grup musik yang mewakili Belanda dalam pagelaran seni Belgia yang bertajuk 'Brussel World Fair'. Di sana, The Tielman Brothers menunjukkan sisi liar mereka di atas panggung dengan memainkan musik yang mereka sebut indorock, perpaduan rock n roll dan keroncong Jawa.

Sayang sekali, apresiasi terhadap The Tielman Brothers di hari tua tak sebaik The Blue Diamonds. Di era 2000-an, mereka terpaksa berpindah ke Australia karena merasa sering menjadi target rasisme dan musik mereka pun tidak diapresiasi dengan baik oleh masyarakat di Belanda.

 

Eddie dan Alex Van Halen

Alexander Arthur van Halen dan Edward Lodewijk van Halen merupakan pendiri grup musik rock asal Amerika Serikat, Van Halen. Mereka lahir dari seorang ayah berdarah Belanda, Jan van Halen, dan seorang ibu berdarah Maluku, Indonesia, Eugenia van Halen.

Pada 1962, keluarga van Halen bertolak ke California, AS. Eddie dan Alex pun menjadi naturalisasi Amerika Serikat di usia 10 dan 12 tahun. Meski pada mulanya Eddie dan Alex mempelajari piano, Eddie akhirnya justru kepincut oleh kehebatan gitar Eric Clapton, sedangkan Alex mengagumi dentuman drum Ron Wilson dari band The Surfaris.

Di usia 20 tahun, Eddie yang sudah mahir bermain gitar mengajak Alex untuk membentuk sebuah grup musik rock bersama. Usai bertemu LeRoth dan Anthony, mereka pun semakin solid dan Van Halen akhirnya terbentuk.

Van Halen kemudian dikenal sebagai grup musik eksentrik dengan permainan gitar Eddie yang ajaib dan dentuman liar drum dari Alex. LeRoth juga kerap disebut sebagai 'badut' panggung karena aksinya yang konyol dan aneh. Tak heran rasanya jika pada 2007, Van Halen sukses masuk ke dalam 'Rock and Roll Hall of Fame'.

 

Dougy Mandagi

Dougy merupakan vokalis grup musik The Temper Trap yang lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Indonesia. Ia juga merupakan keturunan langsung dari salah satu pahlawan nasional asal Manado, Arie Frederik Lasut.

Sejak 1999, Dougy pun memutuskan untuk mencari jati dirinya sendiri dan terbang ke Melbourne, Australia, bermodalkan pengetahuan musiknya. Selama menjadi seorang pengamen di Australia, Dougy bertemu dengan Aherne yang kala itu meminta untuk diajarkan cara bermain gitar.

Pada 2005, Dougy dan Aherne akhirnya mengajak drummer bernama Dundas untuk membentuk The Temper Trap bersama-sama. Satu tahun berselang, The Temper Trap sukses merampungkan sebuah Extended Play atau EP yang sukses membawa mereka menjadi penampil di berbagai festival musik, termasuk V Festival dan Gold Coast Festival.

Pada 2009, The Temper Trap akhirnya merilis album perdana mereka yang bertajuk 'Conditions' dengan single berjudul 'Sweet Disposition'. Single tersebut melejit dan sempat menduduki posisi 9 di tangga lagu Billboard Hot 100. Lagu tersebut juga membawa The Temper Trap memenangkan berbagai penghargaan, seperti ARIA Awards, APRA Awards, dan EG Music Awards.

Hingga saat ini, Dougy masih terus mengembangkan The Temper Trap. Usai berpindah dari Australia ke Inggris, The Temper Trap telah merampungkan album 'Thick as Thieves' (2016), serta menjadi band pembuka untuk tur dunia Imagine Dragons tahun ini.

 

Daniel Sahuleka

Daniel Sahuleka merupakan musisi kenamaan dunia berdarah Ambon-Sunda yang lahir di Semarang. Kendati demikian, Daniel dan keluarganya sudah bertandang dan menetap di Belanda sejak era '60-an.

Pada 1976, Daniel menelurkan album self-titled dengan single andalan yang berjudul 'You Make My World So Colorful' di bawah naungan label musik Belanda, Polydor. Selang beberapa tahun, Daniel kembali mengeluarkan single 'Don't Sleep Away the Night' yang kemudian terkenal hingga ke pasar musik Amerika Serikat.

Memasuki era '90-an, Daniel lebih banyak mengisi acara-acara musik ketimbang menelurkan karya baru. Hanya saja, pada 2004, dia sempat mengeluarkan album 'Berdendang' yang didedikasikan khusus untuk leluhurnya di Maluku.

Kini, Daniel banyak terlibat dalam aksi kemanusiaan di Indonesia. Ia sempat menyumbang dana sebesar Rp 33 juta untuk korban letusan Gunung Merapi pada 2010 dan terus menggalakkan perdamaian atas perang yang kerap terjadi di Maluku.

 

The Blue Diamonds

The Blue Diamonds merupakan duo yang dibentuk oleh kakak-beradik Ruud de Wolff dan Riem de Wolff pada 1959. Meski berasal dari Belanda, mereka adalah keturunan Indonesia yang lahir di Jakarta dan baru menyeberang ke Belanda pada 1949.

Acap kali disebut sebagai The Everly Brother asal Belanda, musik rock n roll upbeat karya The Blue Diamonds sukses menembus pasar Amerika Serikat. Mereka sempat mendaur ulang soundtrack film 'Ramona' (1928) dan menempatkan diri di posisi ke-72 Billboard Hot 100.

Selain single 'Ramona', Blue Diamond juga memiliki segudang album, seperti 'Always... The Blue Diamond' (1960), 'Till We Meet Again' (1961), dan 'Right Back' (1987). The Blue Diamonds juga memiliki satu album berbahasa Indonesia yang bertajuk 'Layang-layang' (1982), serta satu album berbahasa Spanyol yang bertajuk 'En Espanol' (1969).

Hingga era '90-an, The Blue Diamonds masih terus berkarya dan menjadi salah satu fenomena dan legenda di industri musik Belanda. Ruud meninggal dunia pada tahun 2000 di usia 51 tahun, sedangkan Riem meninggal dunia pada tahun 2017 di usia 74 tahun karena penyakit komplikasi

 

Michelle Branch

Di era 2000-an, nama Michelle Branch meroket karena dua album yang ia luncurkan, 'The Spirit Room' dan 'Hotel Paper'. 'Everywhere' adalah single andalannya yang kerap dinyanyikan anak-anak muda di seluruh dunia.

Tak hanya itu, nama Branch semakin terkenal sejak dirinya berkolaborasi dengan pemain gitar nan andal, Santana.

Branch adalah putri pasangan David dan Peggy Branch. David berdarah Irlandia, sedangkan ibunya berdarah Belanda, Prancis, dan Indonesia yang lahir di Surabaya.

Branch juga pernah mengkonfirmasi bahwa dia adalah keturunan Indonesia. Hal itu disampaikan Branch saat dia sedang berbincang dengan temannya di media sosial dengan menuliskan, "Aku setengah Indonesia, kau boleh meminjam bayiku."

 

Carmit Bachar

Carmit Bachar lahir 4 September 1974 adalah seorang penyanyi, penari, model dan aktris berkebangsaan Amerika Serikat. Ia merupakan anggota grup musik Pussycat Dolls, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari grup tersebut pada Maret 2008. 

Dalam grup tersebut ia merupakan salah satu vokalis utama bersama Nicole Scherzinger dan Melody Thornton. Bachar lahir dan dibesarkan di dalam keluarga multi etnis. Ayahnya merupakan seorang berdarah Yahudi, sementara ibunya merupakan seorang campuran Belanda, Tionghoa dan Indonesia.

 

Ora Iso Band

Ora Iso adalah band eksperimental asal New York, Amerika yang berkonsep duo. Berisikan perempuan Indonesia yang besar di Australia, Kathleen Malay, dan temannya, seorang pria bule bernama Jason Kudo. 

Mereka pun bertemu saat Kathleen pindah ke New York dan merasa nyambung dalam berkarya. Menurut Kathleen, nama Ora Iso diambil dari sebuah cara menggabungkan sikap antagonis dengan warisan budaya Jawa yang ia miliki.

 

Asep Stone

Jimi Hendrix asal kota Bandung ini lahir di Bandung pada tahun 1969 dan telah menetap di London, Inggris sejak tahun 1993, sejak ia berumur 21 tahun. Meskipun begitu, sekarang ia telah berpindah tinggal di Swiss dan tetap ingat di mana asalnya, yaitu Indonesia.

Pada tahun 1999, Asep pun pernah tampil dalam acara BBB Experience yaitu acara pelelangan gitar Jimi Hendrix bersama band yang ia bentuk bernama Purple Haze. Ia pun mendapat kehormatan untuk bermain bersama mantan bassist Jimi Hendrix, yaitu Noel Redding dalam kesempatan tersebut. Redding pun sangat ingin mengadakan tour bersama Asep setelah melakukan sesi jamming itu, tetapi hal tersebut harus kandas karena Redding meninggal dunia.

 

Penulis : Bagus
Design : Geordy